Kamis, 12 Maret 2015

HUJAN SORE INI


Sesaat kami sadar dengan rima kehidupan ini yang tak pernah bisa ditebak. Seperti kami pasrah saat gelombang itu datang dan menghanyutkan semua mimpi dan angan. Menghempaskan diri pada batu-batu karang kenyataan yang kasar dan berlubang.
Sering kami bertanya sendiri pada embun yang menggantung di ujung pagi atau pada hujan kala ia turun menyirami setiap kenangan yang pernah terhampar dalam benak dan padang-padang ilalang kisah kami.
Jika kami memang pilihan, hadiah apa yang akan menanti kami di akhir zaman Tuhan?
Pantaskah kami meminta imbalan atas apa yang telah kami dapatkan di dalam drama kehidupan yang Kau ciptakan. Atau memang inilah yang kami inginkan sebenarnya, tatkala kami mendesakmu menurunkan roh-roh kami dalam jasad-jasad nyata di muka bumi.
Kami menjadi pendusta yang nyata ketika semua terhampar di depan mata. Ketika semua perlahan membangkitkan kesadaran dalam otak kami yang kecil, yang terisi seujung jari celupan air kami dari lautan ilmu-Mu yang luas.
Kami bahkan menjadi penentang yang berbahaya ketika kesadaran itu lenyap dan hati kami menjadi hati yang ternoda dan buta. Kami mengkhianati-Mu, mereka dan diri kami sendiri. Bahkan saat timbul kesadaran itu bahwa hati kami tertutup dan berkata pada diri sendiri, bahwa kami, kami-lah yang benar.
Jika kami memang pilihan, apa yang akan menanti kami di akhir zaman Tuhan?
Setiap tetesan sisa hujan, selalu menyakitkan untuk dikenang. Ia membungkus semua kenangan-kenangan dalam kehidupan kami yang terindah, yang mungkin bahkan jarang kami cicipi untuk sekedar melepas dahaga batin yang gersang. Hujan sore ini, Kau turunkan sungguh menjadi suatu anugrah dalam kehidupan kami yang sempit dan kecil.
Hati ini merana dan sedih, tersiksa kenangan dan warna dari perjalanan kehidupan yang tak akan mampu terhampus gelombang laut yang kejam. Dan hati ini begitu tersiksa rindu yang tak begitu kami mengerti dan tak berkesudahan. Apakah rindu akan terhenti jika sudah bertemu dengan yang kami cintai? Rindu itu, sungguh lebih menyedihkan.
Ampuni kami ya Tuhan kami, jika cuma kata ini yang mampu kami sampaikan untuk-Mu sore ini…

Selagalas, 19 September 2010
(untuk saudara-saudaraku: that’s our life…) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar