Rabu, 11 Maret 2015
Surat Kepada Seorang Jenderal
Kepada malam kusambut setiap isapan rokok yang menempel di antara dua jarimu
Yang asapnya menari di depan wajah tuamu yang menyaksikan setiap adegan pembantaian itu
Pembantaian diri, pembantaian batin, pembataian harga diri
Sudah lama senjata itu tersembunyi dalam sarung tuanya di atas lemarimu yang juga tua
Tak ada isi, mati
Jenderal, salam hormat kukirimkan untukmu
Penghormatan akan tanda – tanda jasamu yang tertata rapi dan terbingkai di dinding kamarmu
Sebagai kenangan atas perjalanan dan perjuanganmu membela negeri ini
Penghormatan akan penghargaanmu kepada keluargamu yang kautinggalkan untuk tugas negara
Jenderal, kusambut malam dengan asap rokokmu yang memelintir segenap bayangan diri akan perang itu
Perang mata hati yang membuka kesadaran akan perjuangan
Adalah salah apabila menilai kau memenangkan perang itu
Karena sebenarnya kekalahan itu sudah ada sebelum hadirnya perang dalam kehidupanmu
Malam tidak menangis untukku, pun juga pagi tak setiap saat membangunkanku
Aku bukan prajuritmu, aku bukan anak buahmu
Aku berasal dari harapan yang tak kau duga, Jenderal.
Aku menyadari bahwa ini bukanlah kalimat – kalimat yang kau inginkan menjelang hari tuamu
Di hari dimana tanganmu tak lagi mengangkat senjata
Kakimu tak lagi merasakan panasnya ranjau darat
Punggungmu tak lagi terbebani ransel berat
Tenggorokanmu tak lagi menelan berkaleng – kaleng ransum
Hari ketika waktu yang ada kau isi dengan memberi makan ayam – ayam hutan peliharaanmu
Mengecat dinding rumahmu yang kokoh
Dan mengisap rokok A Mild di tangga kayu lumbung padi belakang rumah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar