Rabu, 29 Agustus 2012

Yang Terbakar Dan Luruh Di Saljumu



Aku pun tak bisa menebak-nebak isi hatimu sampai sekarang
Bukan karena aku terlalu tak peduli padamu
Atau terlalu sibuk dengan urusan duniaku
Atau terlalu berjarak denganmu
Sehingga tak mengenalimu dan hatimu dengan lebih baik
Ada pendongeng yang bercerita
Tentang suatu kisah cinta yang tak terpisahkan
Namun berasal dari dua latar yang berseberangan
Apakah aku, apakah engkau, apakah kita?
Kau bilang senang lihat bulan malam itu
Aku bertanya, iakah bulan yang sama dengan yang kulihat
Jika ya, maka kumintakan pada bulan untuk titip salam hangat padamu dikejauhan sana.
Kenapa bulan?
Karena jika mentari, kita tak yakin ia bisa menjangkau hati kita masing-masing
Engkau yang terlalu dingin berselimut salju untuk hatimu
Sementara aku merasa hangat, bahkan terlampau terbakar semangat untuk hariku
Ada kisah di bawah hujan yang aku ingat,
Kita sempat berduaan di air terjun
Dan engkau yang ramah serta penuh kasih waktu itu
Apa kita akan ulangi lagi untuk kedua kali
Karena kini siraman salju itu berpindah pada hatiku dan hariku
Mungkin engkau yang terbakar cinta dan aku memuja
Terlupa bahwa ada banyak cerita yang kau simpan
Mungkin sengaja tak engkau bagi
Mungkin itu sebab siraman hujan dingin itu membekukan hati ini
Ada yang terbakar di hatimu, itu cinta untukku
Ada yang luruh di hujan saljumu
Itu kejujuranmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar