Di kompas hari kamis 10 desember 2009 tentang komentar seorang aktivis lingkungan hidup asal australia (aku lupa namanya) yang menyatakan bahwa sebenarnya peran internet sangat penting bagi petani. sebanyak 43% petani sudah mengetahui tentang berita2 seputar climate change sisanya sebanyak 44 % belum mengetahuinya. PAdahal informasi semacam itu sangatlah penting bagi mereka apalagi bagi negara-negara Asia yang beriklim tropis dan berpola agraris. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan sosialisasi seputar pentingnya internet bagi petani.
Para petani yang tidak mengetahui informasi seputar clmate change itu umumnya bingung dengan beberapa perubahan yang terjadi pada cuaca dan iklim bumi serta terjadinya panas global, ini sangat mempengaruhi musim tanama bagi mereka. KArena ketidak tahuan itulah maka sebagian kegiatan pertanian di negara2 agraris agak terganggu...
(Hmm...sudah saatnya petani tidak gagap teknologi ya, bukankah internet sekaranfg sudah banyak yang masuk ke desa-desa, koran dan majalah juga banyak, so para petani memang ahrus aktif mencari berita yang up to date. Apalagi bagi para petani Indonesia, karena indonesia kan termasuk negara agraris juga...)
MAsih di kompas: disebutkan bahwa laut indonesia adalah laut yang dapat melepaskan gas emisi karbon, hal ini termasuk menjadi pokok bahasan dalam konferensi lingkungan hidup di Kopenhagen-denmark.
Lingkungan hidup adalah masalah yang sangat penting. Lingkungan hidup tempat tinggal kita, tanah, hutan, sungai, laut, lubuk, gunung, barang tambang, batu mulai, fauna, dan lain sebagainya/ TApi, sayang ya masih banyak sekali yang belum sadar tentang pentingnya lingkungan hidup bagi kita ummat manusia. Kita masih sering disibukkan dengan isu-isu politik, ekonomi, mode, urusan dewe2...kalau bukan kita yang peduli, terus siapa?
PAdahal kita tinggal di negara tropis dengan keindahan yang sangat luar biasa sampai2 mendapat julukan Zamrud Khatulistiwa...tetepai, julukan itu sekarang semakin jarang terdengar karena semakin lama hutan indonesia semakin terkikis oleh ileggal logging, kebakaran, perkebunan liar, dll. LAut dan sungai banyak yang tercemar karena pembuangan limbah barang tambah (seperti kasus di Sumbawa oleh PT. Newmont Nusa Tenggara yang menambang emas di sana), lumpur lapindo, Freeport di Papua...Tinggal menunggu waktu negara kita menajdi kering kerontang dan tidak produktif kalau tidak ada tindakan. Tapi, ngomionga aja juga nggak membantu, mungkin bisa dimulai dari hal kecil dulu, seperti mengurangi kebiasaan buang sampah sembarangan, tidak merusak tanaman, dan memperbanyak menanam pohon di sekitar kita...sulit nggak ya???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar