Rabu, 16 Desember 2009

tetralogi

Aku tak pernah menyangka bisa menginjakkan kaki kembail ke kampung halaman, tanah kelahiran nenek moyang yang sejak empat tahun lalu tak pernah kudengar kabranya, kuhirup udaranya, kupandang langitnya atau bercengkerama dengan orang-orangnya. Sejak empat tahun yang lalu entah apakah memang takdir, atau termasuk dalam bagian yang direncanakan aku menjadi seperti apa yang diinginkan. Aku bukan dirinya, tapi dia membentukku seperti dirinya. AKu adalah aku. Manusia yang memounyai hati, jiwa, raga sendiri.Kenapa ada yang begitu jahat menanamkan paham, kehidupan dan letak pikiran yang ada...aku tak tahu apa itu kehidupan, yang kau tahu hanyalah jalan menatap masa depan tanpa menengok masa lalu yang kelam.....bumi manusia, dasar pijakanku, aku benci...anak segala bangsa, seakan aku tak punya jati diri...jejak langkah, belajar mengenal dan menorehkan tinta karya pada sejarah kehidupan diri dan orang lain...rumah kaca, pada akhirnya aku akan masuk ke dalmnya dan hanya bisa menatap apa yang terjadi tanpa berbuat apa-apa

Rumah pertama: adalah tempat nenek moyang dan darah asal
Rumah kedua: Tanah kelahiran, pulau seribu dewata yang harum dan selalu terkenang
Rumah ketiga: rumah kehidupan, nafas, jejak, suara, bercampur dalam nada yang menarik dan misteri
Rumah keempat....
Rumah keempat adalah mimpi yang terbangun dari harapan dan kerja keras, tekad dan usaha...meski batu batanya terlihat egois dan angkuh, tak diharap ia menjadi banguna yang rapuh...
Rumah keempat: rumah masa depan, tempat pulang dan kerinduan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar